Sabtu, 15 Desember 2012

121212





















Jadi sampai aku di titik sumbu hulu ledak.
Amunisi senapan mesin habis tak berapi.
Garis baris musuh berlipat baris.
Perangkat jimat jumat mainkan lagu-lagu Setan.
Lajur merah hitam cair pekat menggenang kenangan larutkan masa depan.
bujurku kaku membujur biru di depan tiga lonceng bisu nomor dua belas.
Mungkin mati aku di medan ini?
Bangsat,
Lalat,
Monyet,
Babi,
Dan kalian.
Aku rindu aku sekarat.
Cepatlah gelap lalu terang lalu gelap.

penari kaki

Kata nama Khairiyah
Tinggi lajur bulir darah satu kali waktu menemukannya berjingkat menggores wajah pelangi dari selatan.
Mereka dua bola mata cakrawala.  bahasa bebatuan ke berlian.
Hanya bayang jejak tarian kaki hujam dada seketika mereka kembali ke selatan.
Kapan ke utara?

Kapan menari kaki?

waktu


Suatu waktu, hujan dan matahari.

Belajar di Madrasah pojok dukuh samping pertigaan.

Buruk yang tak tampak dua tiga anak perawan berjalan.

Puisi berjudul Bulan bedakan itu siang atau malam.

“yang kuat yang jadi Batman” nyanyian mereka.

halo hantu

Satu kursi, satu meja makan dan sangat sendiri, hanya sendiri tak mati, tak hidup, tak bisa mati. Terima kasih sudah menjaga dan menemani, maaf jika lampau lambat menyadari. hutang kakek, janji ayah dan kakak, juga ingin ibu yang selalu menangis di dalam lemari karena suatu sore di jalan dekat menuju pantai.

Ketika Pak Ustad dan Ibu Guru tidur Malam Bangun Pagi

Ketika pak ustad dan ibu guru tidur malam bangun pagi. Biarkan senyum mengantar kami mengantri nyanyian pintu kamar mandi.

Satu yang seperti itu tak butuh empat puluh lima matahari pagi lagi, panggilan pagi ada di angka lima belas.

Satu dua sujud yang  terkenang untuk matahari pagi yang tersisa merubah sekitar menjadi batu,tepikan matahari pagi lain kesepian menunggu di balik bukit memutar.

dua tengah bebatuan yang pura-pura tertidurjalan dua naik bukit  kabut dalam.

Buta tanpa lampu tak kira seperti apa ujung jalan, Bisu bagaimana kelak mereka akan mengucapkan selamat tinggal pada kabut dan sajadah.

Yah jatuh cinta itu biasa saja.

JAMUR KENTANG

seberang papan batas tirai, bawah remang, depan pelangi persegi. sepasang jantung muda coba mengikat bisik simpul antara takdir dan pilihan.

Untuk sesaat aku mengingatmu.


Konflik hanya ada di luar angkasa. Masa muda masa kita melawan dunia. Sebelum membentur ridho orang tua, biaya kos perbulan dan makan perhari. Beraninya kau mati. aku sendiri, Tv kita aku hancurkan. dengan gitarmu kau kan kuhidupkan kembali, nyanyikan lagi lagu selamat tinggal.

MATA SATU MATA




Ini hipnotis simbol.
menari berputar di atas piramida bermata satu.
Rencana-rencana pesta di Neraka, tatanan Dunia Baru, pembunuhan Tuhan.
Satu jenis satu mata, tujuh masa Penjual Jiwa Pembawa Pesan untuk segalanya.
Tawaran air api ilusi tanpa surga neraka.
Pasukan Tentara semua suka senang.
Dewa Lalat Dewa Kepala Burung komando Pasukan Tentara menuju tangga surga yang terbalik dari belakang ke depan.
Terhantar iringan bunyi sembunyi ayat memuji, doa memuja, di balik belakang gambar, kata, angka dan gerakan. 

ARSITEK

Tak tau apa saja yang masuk ke hidupku, tapi ini rasanya pedas. Aku tak sebodoh itu, aku tau kau menciumku saat aku tertidur, itu ciuman pertamaku. Tak usah kau heran aku menyimpan semua sampah ini dan mencarimu untuk membuatkanku rumah karena aku juga menyukaimu. Benar sama sepertimu kau juga cinta pertamaku. Kau jelas tau saat salju pertama kali turun aku datang aku menunggumu, tak tau denganmu kau tak datang. sampai malam aku sendiri. Aku gadis yang tercekik, aku ingin pulang. Jangan menangis kau tak bisa memperbaiki pintu gerbang rumah ibumu. Terima kasih untuk rumahnya, aku bisa mengingatmu dengan memutar kembali catatan kenangan yang sudah kau simpan dan kembalikan. Semoga kau bahagia, kunjungilah Ibumu sesering mungkin. bukan apa-apa, aku hanya khawatir. Dia pasti kesepian.

Aku (Bagian 2)

kita adalah semua tarian dan nyanyian kosong yang ada di Dunia.
Dan tentang ku yang benar-benar menyukaimu marla? Itu benar.
Saat aku bersamamu aku bahkan cemburu.
Maaf jika sering membuangmu.

Setelah aku tembak kepalaku, percayalah semuanya akan baik-baik saja.

TANYA


Pilihannya membawa ke takdirnya
Atau Dia memang sudah ditakdirkan untuk memilih ?
Kita memilih takdir kita sendiri
Atau karena takdirlah kita memilih ?
Aku memilih takdir pilihan
Atau  aku terpilih karena pilihan takdir ?

Lalu Kau hendak pilih yang mana
Kau sudah  takdirku atau kau memang pilihanku ?

JAWAB


Jika lemah memang di ujung kuku kaki takdir, pilihlah pilihan berpura-pura menjadi superman, Terbang lintas sekat awan kepasrahan, terbang terobos asap ketidakberdayaan.
Lepas dari jebakan perangkap tanda-tanda tanya, pun seimbang tak akan jatuh tertimpa tanda-tanda seru.
Memilih pilihan arus takdir dengan  nafas menolak  lemah, pun menjadi mayat dan mengering.
Nikmat tiap buih arusnya merekonstruksi batu-batu karang di pori-pori tubuh.
biarkan mengikat walau tak sepakat.
Pantang mengaku kalah tanpa batas titik melemah.
tikungan, tanjakan, ratakan jalan di depan!
Kuasai saja malam, lalu pastikan tidak lagi meracau di pertengahan malam hingga benar tak ada bagian pagi yang akan tersayat kembali.
Inilah ribuan takdir jutaan pilihan.
Tentang bagaimana membangun kembali reruntuhan sayap lalat-lalat yang berjamaah terperosok terjun tercebur ke kubangan air kopi.