Rabu, 12 Maret 2014

Puisi Gotong Royong

           Bangsa Indonesia adalah bangsa gotong royong, itu sudah terbentuk dari jaman baheula rakyat Indonesia kompak gotong royong membangun Candi Borobudur, hingga kini jaman twitter para pemimpin bangsa kompak gotong royong merampok uang rakyat. konsisten yah! Di dunia kreatif yang hingar bingar juga banyak proses berkaryanya melalui jalan gotong royong ini. Musisi-musisi jelas banyak yang bersekongkol dalam membuat lagu-lagu dan musik yang ciamik, banyak juga Ilustrator-ilustrator membuat gambar-gambar keren secara kroyokan, para pembuat film/sinetron/FTV apalagi.. Lalu bagaimana di dunia tulis menulis? rasanya belum pernah saya mendengar seorang novelis menulis novelnya dengan cara kolaborasi, pun para penyair yang menulis puisi-puisinya secara gotong royong (correct me if i'am wrong).

           Nah.. saya bersama dua orang teman saya yang keren nan tampan (tapi jomblo) Sokhi lutfi pecinta fotografi sekaligus pecandu laura basuki dan Cahyo Purwanto pemuda tanggung pecinta alam dari komplotan pembangkang skripsi generasi menolak wisuda tepat waktu baru-baru ini berkesempatan berkarya menulis puisi secara gotong royong :D kok bisa? emang bisa? tentu bisa! Lee Seunggi saja bisa macarin neng Yoona SNSD (apalah) menulis puisi juga bisa dilakukan secara gotong royong. Melalui media twitter kami menuliskan keluh kesah dan kegundahan kami menjadi sebuah puisi. Memang cuma dan baru tiga biji, tapi ini bagus karena bagi saya pribadi hidup itu pendek dan seni itu panjang. Bukan tidak mungkin dari titik ini kita bisa menemukan cara berkreasi dan berkarya yang jauh lebih keren dan tampan. Tidak hanya terbatas pada bidang tulis menulis tapi juga bidang-bidang yang lain. Tetaplah berkarya, tetaplah tampan dan silahkan teman-teman nikmati seperti apa itu puisi gotong berikut..




UNTITLED 1
malam ini, di atas bangku bambu aku duduk termangu berkawan semu,
menunggu kau menyeka rindu di titik beku air mataku. 
yang mulai jemu, mulai bosan menanti bayang yang tak kunjung datang.
pun tak jua hilang menyayat harap memahat pedih.
melukai angan yang senang melayang.
di batin gersang membawa rindu yang enggan pulang.
harapku adalah senyum jinggamu di senja hari dan pedihku rindu pelukmu lekas kembali

UNTITLED 2
kau membiru, di simpang jalan doa dan realita saling bertemu namun tak jua saling bersua
ada sua yang ingin aku tulis dalam lembar merah lowongan kerja. bukan, bukan harapan. aku benci berharap
saat doa tak menjadi realita, aku diam. aku tuna wicara, aku tuna wisma. akulah yang mengejar kerja dengan terbata
harapku kini serupa bulir asap roko di tiap juta sudut ruang paruku, lamat melihat siap mengendap kelam menikam
kejarlah. kejarlah. kejarlah kerja. lalu sadarilah, untuk apa mengejar kerja? besok musim dingin
aku tak mengatakan ini kepedihan. tapi lihatlah, betapa asap roko ini akan melukiskan musim dingin tanpa pengharapan
kejarlah kerja, hiasi dinding musim dinginmu dengan kertas merah lowongan kerja lalu matilah sebagai orang biasa-biasa saja

UNTITLED 3
kau merapal kemudian ingkar. kekasih kau jauh, merindu sembahku
sarung dan sajadah ini masih ku simpan. barangkali kau kekasih (kembali) memberiku kehilangan yang tak bisa kupasrahkan
karena sembahku, kau kekasih nampak samar namun kuat menampar. karena sembahku berbatas derak gelak tawa dari karat bening televisi
kekasih, dalam khusyu munajat dan tirakat malamku, aku tak pernah lelah mencintaimu


Tidak ada komentar: