Selasa, 31 Desember 2013

Walla Walla

Lamat tersayat dan masih terlihat tawa tutup tangan di mulutmu.
kemudian aku teriris bulan sabit di bawah alismu.
saat aku menatapmu, biarkan aku mewarnai air mataku. merah, semerah warna bibirmu.
halo, hei.. sampai bara di ujung bulan sabit terkubur abu air mataku, sampai tinta pewarna air mataku buta warna bibirmu.
aku ingin mengabu di pangkuanmu, tak berwarna tak berbau bertutur bagaimana bisu air mataku.
Dingin bahu dan punggungmu rautkan karatkan mata penaku.
karena kau hanya mengambang di ambang hampa, gelapkan lelapkan limbungkan aku dengan gema sayap sapamu.

Berhentilah menyapa mulailah walla walla.




Tidak ada komentar: