Lamat tersayat dan masih terlihat tawa tutup tangan di
mulutmu.
kemudian aku teriris bulan sabit di bawah alismu.
saat aku menatapmu, biarkan aku mewarnai air mataku. merah,
semerah warna bibirmu.
halo, hei.. sampai bara di ujung bulan sabit terkubur abu
air mataku, sampai tinta pewarna air mataku buta warna bibirmu.
aku ingin mengabu
di pangkuanmu, tak berwarna tak berbau bertutur bagaimana bisu air mataku.
Dingin bahu dan punggungmu rautkan karatkan mata penaku.
karena kau hanya
mengambang di ambang hampa, gelapkan lelapkan limbungkan aku dengan gema sayap
sapamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar