Selasa, 08 April 2014

Karena Saya Berpikir Maka Saya Tak Memilih

Sesat tadi saya terhenyak ketika membaca sebuah postingan photo di FB dari seorang teman yang isinya seperti ini “jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau parpol islam, itu hak anda. Tapi jika anda dan jutaan yang lain tidak ikut pemilu (GOLPUT) maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita..


Dalam pikiran saya lantas terlintas “
haduh! justru orang-orang yang akan kita pilih itu semuanya masuk dalam kriteria-kriteria tadi. ya fasiklah, liberalah, atheislah, sekulerlah, komplit!” tak perlu melihat dengan mata batin, coba lihat sajalah dengan mata telanjang orang-orang yang menawarkan dirinya untuk dipilih. Sebagian pemain lama yang gagal dan terbukti ingkar. Sebagian lagi pemain baru yang saya yakin mencalonkan diri sebatas untuk mencari mata pencaharian. Tidak setuju? Amati cara mereka berkampanye. memaku pohon, merusak pemandangan kota, memacetkan jalan, bagi-bagi duit, menjatuhkan dan menjelek-jelekan satu sama lain, sampai bela-belain konsultasi ke dukun. Demi apa coba? Negara? Nope, demi kekuasaan dan duit! berbeda-beda tapi sama rakus (anti tank)


Ini sistem demokrasi tolol yang berulang setiap 5 tahun sekali. Nyalon – berjanji (membodohi) – kepilih – ingkar (gagal) – nyalon lagi – berjanji (membodohi) lagi – begitu seterusnya berulang memutar. “nggak mungkin semuanya brengsek, pasti ada satu dua orang baik”  nyempil dimana satu dua orang baik itu? Satu dua orang baik di tengah pusaran sistem “suara terbanyak selalu benar”?. Bisa apa satu dua orang baik di tengah kumpulan ratusan orang-orang brengsek? Makanya saya sebut ini sistem demokrasi tolol, dimana satu dua orang baik perlahan berubah menjadi brengsek ketika masuk ke kumpulan orang-orang brengsek.


Silahkan kalian ke TPS kemudian mencoblos nama partai dan orang yang kalian anggap baik. tapi jangan sampai kalian menutup mata kalian ketika di kemudian hari orang baik itu terlihat tidur saat rapat di DPR, jangan sampai kalian menutup telinga kalian ketika orang baik itu menghabiskan anggaran DPR untuk studi banding (plesir) keluar negri, jangan sampai kalian menutup mulut kalian ketika orang baik itu terlibat kasus video porno, jangan sampai kalian menutup pikiran kalian ketika orang baik itu ditangkap oleh KPK.


Bagi saya sendiri kita tidak perlu mengandalkan orang baik untuk merubah dan membuat negara ini menjadi lebih baik dan hebat, kita bisa melakukannya sendiri dengan hal sekecil apapun yang bisa kita lakukan. Karena saya berpikir maka saya tak memilih.